Gunung Merapi (ketinggian puncak 2.968 m dpl, per 2006)
adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu
gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi
Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah
Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten
Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara.
Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi
sejak tahun 2004.
Secara Geologi
Gunung Merapi adalah gunung termuda dalam rangkaian gunung
berapi yang mengarah ke selatan dari Gunung Ungaran. Gunung ini terbentuk
karena aktivitas di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah
Lempeng Eurasia menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian
tengah Pulau Jawa. Puncak yang sekarang ini tidak ditumbuhi vegetasi karena
aktivitas vulkanik tinggi. Puncak ini tumbuh di sisi barat daya puncak Gunung
Batulawang yang lebih tua.
Proses pembentukan Gunung Merapi telah dipelajari dan
dipublikasi sejak 1989 dan seterusnya. Berthomier, seorang sarjana Prancis,
membagi perkembangan Merapi dalam empat tahap. Tahap pertama adalah
Pra-Merapi (sampai 400.000 tahun yang lalu), yaitu Gunung Bibi yang bagiannya
masih dapat dilihat di sisi timur puncak Merapi. Tahap Merapi Tua terjadi
ketika Merapi mulai terbentuk namun belum berbentuk kerucut (60.000 - 8000
tahun lalu). Sisa-sisa tahap ini adalah Bukit Turgo dan Bukit Plawangan di
bagian selatan, yang terbentuk dari lava basaltik. Selanjutnya adalah Merapi
Pertengahan (8000 - 2000 tahun lalu), ditandai dengan terbentuknya puncak-puncak
tinggi, seperti Bukit Gajahmungkur dan Batulawang, yang tersusun dari lava
andesit. Proses pembentukan pada masa ini ditandai dengan aliran lava,
breksiasi lava, dan awan panas. Aktivitas Merapi telah bersifat letusan efusif
(lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan
runtuhan material ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal kuda dengan
panjang 7 km, lebar 1–2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Kawah
Pasarbubar (atau Pasarbubrah) diperkirakan terbentuk pada masa ini. Puncak
Merapi yang sekarang, Puncak Anyar, baru mulai terbentuk sekitar 2000 tahun
yang lalu. Dalam perkembangannya, diketahui terjadi beberapa kali letusan
eksplosif dengan VEI 4 berdasarkan pengamatan lapisan tefra.
Karakteristik letusan sejak 1953 adalah desakan lava ke
puncak kawah disertai dengan keruntuhan kubah lava secara periodik dan
pembentukan awan panas (nuée ardente) yang dapat meluncur di lereng gunung atau
vertikal ke atas. Letusan tipe Merapi ini secara umum tidak mengeluarkan suara
ledakan tetapi desisan. Kubah puncak yang ada sampai 2010 adalah hasil proses
yang berlangsung sejak letusan gas 1969.
Pakar geologi pada tahun 2006 mendeteksi adanya ruang
raksasa di bawah Merapi berisi material seperti lumpur yang secara "signifikan
menghambat gelombang getaran gempa bumi". Para ilmuwan memperkirakan
material itu adalah magma.Kantung magma ini merupakan bagian dari formasi
yang terbentuk akibat menghunjamnya Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng
Eurasia.
Puncak Merapi pada tahun 1930.
Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih
besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar
tercatat pada tahun 1006 (dugaan), 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan pada
tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu,
berdasarkan pengamatan timbunan debu vulkanik.Ahli geologi Belanda, van
Bemmelen, berteori bahwa letusan tersebut menyebabkan pusat Kerajaan Medang
(Mataram Kuno) harus berpindah ke Jawa Timur. Letusan pada tahun 1872 dianggap
sebagai letusan terkuat dalam catatan geologi modern dengan skala VEI mencapai
3 sampai 4. Letusan terbaru, 2010, diperkirakan juga memiliki kekuatan yang
mendekati atau sama. Letusan tahun 1930, yang menghancurkan tiga belas desa dan
menewaskan 1400 orang, merupakan letusan dengan catatan korban terbesar hingga
sekarang.[butuh rujukan]
Letusan bulan November 1994 menyebabkan luncuran awan panas
ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban 60 jiwa manusia.
Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan
korban jiwa. Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003
berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus. Pada tahun 2006 Gunung
Merapi kembali beraktivitas tinggi dan sempat menelan dua nyawa sukarelawan di
kawasan Kaliadem karena terkena terjangan awan panas.
Rangkaian letusan pada
bulan Oktober dan November 2010 dievaluasi sebagai yang terbesar sejak letusan
1872 dan memakan korban nyawa 273 orang (per 17 November 2010), meskipun
telah diberlakukan pengamatan yang intensif dan persiapan manajemen
pengungsian. Letusan 2010 juga teramati sebagai penyimpangan dari letusan
"tipe Merapi" karena bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan
gemuruh yang terdengar hingga jarak 20–30 km.
Gunung ini dimonitor non-stop oleh Pusat Pengamatan Gunung
Merapi di Kota Yogyakarta, dibantu dengan berbagai instrumen geofisika
telemetri di sekitar puncak gunung serta sejumlah pos pengamatan visual dan
pencatat kegempaan di Ngepos (Srumbung), Babadan, dan Kaliurang.,.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar